B. Aspek Ontologi: Hakikat Jenis Ilmu
Pengetahuan
Ontologi, dalam bahasa inggris ‘ontology’, berakar dari bahasa Yunani ‘on’
berarti ada, dan ‘logos’ berarti keberadaan. Sedangkan ‘logos’
berarti pemikiran (Lorens Bagus: 2000). Jadi, ontologi adalah pmikiran
mengenai yang ada dan keberadaannya.[6] Selanjutnya,
menurut A.R. Lacey, ontologi diartikan sebagai “a central part of
metaphisics”(bagian sentral dari metafisika). Sedangkan metafisika
diartikan sebagai “that which comes after ‘phisic’,... the study of
nature in general” (yang hadir setelah fisika, ... studi umum mengenai
alam). Dalam metafisika, pada dasarnya dipersoalkan mengenai substansi atau
hakikat alam semesta. Apakah alam semesta ini berhakikat monistik atau pluralistik,bersifat tetap atau berubah-ubah,
dan apakah alam semesta ini merupakan kesungguhan (actual) atau kemungkinan
(potency).
Beberapa karakteristik ontologi, seperti diungkapkan oleh Bagus, antara lain
dapat disederhanakan sebagai berikut:
¨ Ontologi adalah studi tentang arti “ada” dan “berada”,
tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam
dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak.
¨ Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata
dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan
kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualisasi atau potensialisasi,
nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu,
perubahan dan sebagainya.
¨ Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba
melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu Yang Satu, Yang
Absolut, Bentuk Abadi, Sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak
bergantung kepada-nya.
¨ Cabang filsafat yang mempelajari tentang status
realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.
Seperti yang telah diungkapkan di atas, hakikat abstrak atau jenis menentukan
kesatuan (kesamaan) dari berbagai macam jenis, bentuk dan sifat hal-ha atau
barang-barang yang berbeda-beda dan terpisah-pisah. Perbedaan dan keterpisahan
dari orang-orang bernama Socrates, Plato, Aristoteles, dan sebagainya, terkait
dalam satu kesamaan sebagai manusia. Manusia, binatang, tumbuhan, dan
benda-benda lain yang berbeda-beda dan terpisah-pisah, tersatukan dengan
kesamaan jenis sebagai makhluk. Jadi, hakikat jenis dapat dipahami sebagai
titik sifat abstrak tertinggi daripada sesuatu hal. Dalam filsafat, studi
mengenai hakikat jenis atau hakikat abstrak ini masuk ke dalam bidang
metafisika umum atau ontologi.
Oleh sebab itu, pembahasan tentang hakikat jenis ilmu pengetahuan berarti
membahas ilmu pengetahuan secara ontologis. Persoalannya adalah sejauh mana
fakta perbedaan dan keterpisahan ilmu pengetahuan ini merupakan kesungguhan (actus) atau
kemungkinan (potency), dalam arti seharusnya ilmu pengetahuan itu
memang pluralistik atau monistik?
Secara Ontologis, artinya secara metafisis umum, objek materi yang
dipelajari di dalam pluralitas ilmu pengetahuan, bersifat monistik pada tingkat
yang paling abstrak. Seluruh objek materi pluralitas ilmu pengetahuan, seperti
manusia, binatang, tumbuhan, dan zat kebendaan berada pada tingkat abstrak
tertinggi, yaitu dalam kesatuan dan kesamaannya sebagai makhluk. kenyataannya
itu mendasari dan menentukan kesatuan pluralitas ilmu pengetahuan. Dengan kata
lain, pluralitas kata lain, pluralitas ilmu pengetahuan berhakikat satu, yaitu dalam
kesatuan objek materinya.
Di samping objek materi, keberadaan ilmu pengetahuan juga lebih ditentukan oleh objek
forma. Objek forma ini sering dipahami sebagai sudut atau titik
pandang (point of view), yang selanjutnya menentukan ruang lingkup
studi (scope of the study). Berdasarkan ruang lingkup studi inilah
selanjutnya ilmu pengetahuan berkembang menjadi plura, berbeda-beda dan
cenderung saling terpisah antara satu dengan yang lain.
Berdasarkan hukum kodrat (ontologis), jika mempertimbangkan proses terbentuknya
objek forma, maka dapat dinilai bahwa bagaimanapun perkembangan ilmu
pengetahuan menjadi plural, tetapi hanya terbatas pada perbedaan, bukan
keterpisahan.
Di samping pendekatan kuantitatif menurut objek materi dan objek forma terhadap
pemecahan masalah hakikat ilmu pengetahuan, secara ontologis masih ada
pendekatan kualitatif. Melalui pendekatan kualitatif, persoalan yang sama,
yaitu aspek ontoogi ilmu pengetahuan dengan persoalan hakikat keberadaan
pluralitas ilmu pengetahuan, dapat digolongkan ke dalam tingkat-tingkat abstrak
universal, teoretis potensial dan konkret fungsional.
No comments:
Post a Comment