ASPEK ONTOLOGI - pemuda bebas berkarya

Breaking

post

recent/hot-posts

Monday, May 28, 2018

ASPEK ONTOLOGI






B. Aspek Ontologi: Hakikat Jenis Ilmu Pengetahuan


            Ontologi, dalam bahasa inggris ‘ontology’, berakar dari bahasa Yunani ‘on’ berarti ada, dan ‘logos’ berarti keberadaan. Sedangkan ‘logos’ berarti pemikiran (Lorens Bagus: 2000). Jadi, ontologi adalah pmikiran mengenai  yang ada dan keberadaannya.[6] Selanjutnya, menurut A.R. Lacey, ontologi diartikan sebagai “a central part of metaphisics”(bagian sentral dari metafisika). Sedangkan metafisika diartikan sebagai “that which comes after ‘phisic’,... the study of nature in general” (yang hadir setelah fisika, ... studi umum mengenai alam). Dalam metafisika, pada dasarnya dipersoalkan mengenai substansi atau hakikat alam semesta. Apakah alam semesta ini berhakikat monistik atau pluralistik,bersifat tetap atau berubah-ubah, dan apakah alam semesta ini merupakan kesungguhan (actual) atau kemungkinan (potency).
            Beberapa karakteristik ontologi, seperti diungkapkan oleh Bagus, antara lain dapat disederhanakan sebagai berikut:

¨   Ontologi adalah studi tentang arti “ada” dan “berada”, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak.
¨      Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualisasi atau potensialisasi, nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebagainya.
¨      Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu Yang Satu, Yang Absolut, Bentuk Abadi, Sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak bergantung kepada-nya.
¨      Cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.


            Seperti yang telah diungkapkan di atas, hakikat abstrak atau jenis menentukan kesatuan (kesamaan) dari berbagai macam jenis, bentuk dan sifat hal-ha atau barang-barang yang berbeda-beda dan terpisah-pisah. Perbedaan dan keterpisahan dari orang-orang bernama Socrates, Plato, Aristoteles, dan sebagainya, terkait dalam satu kesamaan sebagai manusia. Manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lain yang berbeda-beda dan terpisah-pisah, tersatukan dengan kesamaan jenis sebagai makhluk. Jadi, hakikat jenis dapat dipahami sebagai titik sifat abstrak tertinggi daripada sesuatu hal. Dalam filsafat, studi mengenai hakikat jenis atau hakikat abstrak ini masuk ke dalam bidang metafisika umum atau ontologi.
            Oleh sebab itu, pembahasan tentang hakikat jenis ilmu pengetahuan berarti membahas ilmu pengetahuan secara ontologis. Persoalannya adalah sejauh mana fakta perbedaan dan keterpisahan ilmu pengetahuan ini merupakan kesungguhan (actus) atau kemungkinan (potency), dalam arti seharusnya ilmu pengetahuan itu memang pluralistik atau monistik?


            Secara Ontologis, artinya secara metafisis umum, objek materi yang dipelajari di dalam pluralitas ilmu pengetahuan, bersifat monistik pada tingkat yang paling abstrak. Seluruh objek materi pluralitas ilmu pengetahuan, seperti manusia, binatang, tumbuhan, dan zat kebendaan berada pada tingkat abstrak tertinggi, yaitu dalam kesatuan dan kesamaannya sebagai makhluk. kenyataannya itu mendasari dan menentukan kesatuan pluralitas ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, pluralitas kata lain, pluralitas ilmu pengetahuan berhakikat satu, yaitu dalam kesatuan objek materinya.


            Di samping objek materi, keberadaan ilmu pengetahuan juga lebih ditentukan oleh objek forma. Objek forma ini sering dipahami sebagai sudut atau titik pandang (point of view), yang selanjutnya menentukan ruang lingkup studi (scope of the study). Berdasarkan ruang lingkup studi inilah selanjutnya ilmu pengetahuan berkembang menjadi plura, berbeda-beda dan cenderung saling terpisah antara satu dengan yang lain.


            Berdasarkan hukum kodrat (ontologis), jika mempertimbangkan proses terbentuknya objek forma, maka dapat dinilai bahwa bagaimanapun perkembangan ilmu pengetahuan menjadi plural, tetapi hanya terbatas pada perbedaan, bukan keterpisahan.

            Di samping pendekatan kuantitatif menurut objek materi dan objek forma terhadap pemecahan masalah hakikat ilmu pengetahuan, secara ontologis masih ada pendekatan kualitatif. Melalui pendekatan kualitatif, persoalan yang sama, yaitu aspek ontoogi ilmu pengetahuan dengan persoalan hakikat keberadaan pluralitas ilmu pengetahuan, dapat digolongkan ke dalam tingkat-tingkat abstrak universal, teoretis potensial dan konkret fungsional.

No comments:

Post a Comment